Terkadang kita lupa dengan satu hal ini, ya “enjoy the process”. Kita terlalu banyak menuntut dan memaksa Allah untuk menuruti dengan mengabulkan setiap keinginan kita dengan cepat, padahal, siapalah kita? Apa hak kita sampai bisa mengintervensi kehendak Allah? Bukannya Allah yang menciptakan kita? Dia yang memberikan kita kesempatan menginjakkan kaki di bumi Nya, dia juga yang secara sukarela memberikan rizki kepada kita. Lalu mengapa kita terlalu banyak menuntut? Tak malukah kita kepada Nya?
Inilah yang harus menjadi renungan buat kita semua, bukankah Rasulullah saw pernah ditegur oleh Allah? Ketika beliau mngharapkan ampunan bagi pamannya, Abu Thalib, agar bisa memeluk Islam? Hal ini ditegaskan dalam alqur’an surat at-Taubah..
”Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam”. (QS. At-Taubah [9]: 113)
”Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”. (QS. Al-Qashash [28]: 56)
Ingat juga ketika Nabi Nuh yang menangis ketika melihat anaknya, yang pada saat itu tidak mau naik keatas bahtera Nuh? Allah langsung menegurnya dengan keras, bahwa Nuh hanyalah pemberi peringatan, tidak pantas ia menangisi anak karena kesalahannya sendiri yang tidak mau taat kepada perintah Allah, dan ketika Nuh meminta agar anaknya selamat, Allah kemudian menegurnya. Berikut kisah Nuh dan keinginan menyelamtkan anaknya, yang tertulis dalam al-Qur’an surat Hud:
”Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.” (QS. Hud [11]: 42)
”Anaknya menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” Nuh berkata: “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang.” Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan”. (QS. Hud [11]: 43)
”Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.” (QS. Hud [11]: 45)
”Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya[722] perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.” (QS. Hud [11]: 46)
Nuh berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Hud [11]: 47)
Sebegitu besar keinginan Nuh tidak bisa meluluhkan kehendak Allah, karena hanya Dia-lah yang mempunyai kekuasaan atas hamba-Nya.
Mungkin contoh diatas memang tidak terlalu mengena tentang bagaimana seharusnya menikmati proses, tapi jika hal demikian kita ambil ibrahnya, sungguh tidak sopannya diri ini yang selalu menuntut kepada Allah. Terkadang kita menuntut Allah agar sesuai dengan keinginan kita, apa kita ga mikir? Selama ini Allah sudah memberikan kepada kita segala yang kita tidak pernah memintanya, sekarang kita masih juga menuntut Allah memberikan sesuatu kepada kita. (oh… malunya diri ini)..
[Bersambung…]
