Posted by: cholidudin | August 9, 2010

Islam dan Ruang Lingkupnya


A. PENDAHULUAN
Kata Islam berasal dari kata Salima ( سَلِمَ ) yang berarti selamat, damai, tunduk, pasrah dan berserah diri. Objek penyerahan diri ini adalah Pencipta seluruh alam semesta yakni Allah SWT. Dengan demikian Islam berarti penyerahan diri kepada Allah SWT.

Ajaran Islam tidak hanya terbatas pada masalah hubungan pribadi antara seorang individu dangan penciptanya (hablum minallah), namun mencakup pula masalah hubungan antar sesama manusia (hablum minannas), bahkan juga hubungan antara manusia dengan makhluk lainnya termasuk dengan alam dan lingkungan. Jadi,. Islam adalah suatu cara hidup yang membimbing seluruh aspek kehidupan manusia .

Dalam perkembangannya, Islam sebagai agama kemudian ditafsirkan beragam oleh para pemikir-pemikir, ini mungkin disebabkan karena berbagai perbedaan interpretasi dari sumber-sumber ajaran Islam, perbedaan daya fikir serta daya intelektualitas dari para pemikir-pemikir tersebut dalam memahami ajaran-ajaran Islam. Sehingga dibutuhkan suatu pengkajian yang lebih komprehensif tentang Islam itu sendiri yang kemudian disebut dengan metodologi studi islam, yang mencakup tiga aspek utama ajaran Islam, yaitu akidah, syariah, dan akhlak dipandang dari berbagai perspektif, baik dari perspektif normatif, historis maupun sosiologis.

B. PEMBAHASAN
Agama Islam memiliki tiga aspek utama, yakni aspek aqidah, aspek syari’ah dan aspek akhlak. Akidah disebut juga iman, sedangkan syariah adalah islam dan akhlak disebut juga ihsan . Sehingga dalam pembahasan Metodologi Studi Islam akan fokus pula pada tiga aspek ini, mulai dari ruang lingkupnya sampai dengan hal-hal yang berkaitan pula dengan ketiganya.

1. Aspek Akidah
Akidah merupakan sebuah fondasi atau landasan manusia yang bertuhan dalam mempercayai/meyakini tuhannya. Dalam Islam Akidah bagaikan ikatan perjanjian yang kokoh yang tertanam jauh didalam lubuk hati sanubari manusia. Ia merupakan suatu bentuk pengakuan/persaksian secara sadar mengenai keyakinan, keimanan, kepercayaan, bahwa ada suatu zat Yang Maha Esa yang telah menciptakan seluruh alam ini beserta isinya, Zat Yang Maha Kuasa yaitu Allah SWT .

Akidah aspek yang berhubungan dengan masalah-masalah keimanan dan dasar-dasar agama. Akidah memberikan visi dan makna bagi eksistensi kehidupan manusia di bumi. Tanpa akidah hidup ini akan kehilangan maknanya dan manusia akan kehilangan keruhaniaannya.
Manusia sebagai makhluk yang diciptakan-NYA wajib meyakini segala apapun tentang Allah SWT dengan mempelajari sifat-sifat dan tanda-tanda kekuasaan Allah yang terhampar luas di muka bumi. Bukan menanyakan bagaimana wujud Allah, karena penglihatan manusia tidak akan mampu melihat wujud Allah SWT. Firman Allah SWT:
Artinya: “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah yang Maha Halus lagi Maha mengetahui. (QS. Al-An’am [6]: 103)

Akidah merupakan pokok-pokok keimanan, maka akidah sifatnya kekal dan tidak mengalami perubahan, sejak Nabi Adam sampai sekarang, meskipun terdapat perbedaan-perbedaan interpretasi, sehingga kemudian muncullah berbagai macam faham dan aliran dalam Islam karena perbedaan sudut pandang dan perbedaan pendapat dalam bagaimana cara memahami akidah, adapun berbagai macam aliran tersebut adalah :

a. Khawarij
Khawārij secara harfiah berarti “Mereka yang Keluar” . Kata ini dipergunakan oleh kalangan Islam untuk menyebut sekelompok orang yang keluar dari barisan Ali ibn Abi Thalib r.a. karena kekecewaan mereka terhadap sikapnya yang telah menerima tawaran tahkim (arbitrase) dari kelompok Mu’awiyyah yang dikomandoi oleh Amr ibn Ash dalam Perang Shiffin (37H/657). Jadi, nama khawarij bukanlah berasal dari kelompok ini. Mereka sendiri lebih suka menamakan diri dengan Syurah atau para penjual, yaitu orang-orang yang menjual (mengorbankan) jiwa raga mereka demi keridhaan Allah . Aliran ini dipelopori oleh ‘Atab bin A’war dan ‘urwah bin Jarir .

Pada awalnya, khawarij merupakan aliran politik, karena pada dasarnya, kelompok itu terbentuk karena persoalan kepemimpinan umat islam. Akan tetapi mereka mereka membentuk suatu ajaran yang klemudian menjadi cirri utama aliran mereka, yaitu ajran tentang pelaku dosa besar (murtaki al-Kabir). Menurut khawarij, orang-orang yang terlibat dalam menyetujui hasil tahkim seperti Ali bin Abi Thalib, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Abu Musa al-Asy’ari, Amr bin Ash dan sahabat lain telah melakukan dosa besar, dan telah kafir; Kafir setelah memeluk Islam berarti murtad; dan orang yang keluar dari Islam (murtad) halal dibunuh .

Pemikiran aliran Khawarij
1. Menganggap kafir orang-orang yang berseberangan dengan mereka, terutama yang terlibat dalam Perang Shiffin. Karenanya, tidak ada istilah damai untuk penentang Khawarij, mengingat yang dimaksud ishlah dalam QS. Al-Hujurat: 9 adalah sesama orang Islam, tidak dengan orang kafir.

2. Orang Islam yang berbuat dosa besar, seperti berzina dan pembunuh adalah kafir dan selamanya masuk neraka.

3.Hak khilafah tidak harus dari kerabat nabi atau suku Quraisy khususnya, dan orang Arab umumnya. Seorang khalifah harus dipilih oleh kaum Muslimin melalui pemilihan yang bebas. Khalifah yang taat kepada Tuhan wajib ditaati. Sebaliknya, khalifah yang mengingkari Tuhan dan umat yang durhaka kepada khilafah yang wajib ditaati, boleh diperangi dan dibunuh.

4. Orang musyrik adalah yang melakukan dosa besar, tidak sepaham dengan mereka, atau orang yang sepaham tetapi tidak ikut hijrah dan berperang bersama mereka. Orang musyrik itu halal darahnya. Nasib mereka bersama anak-anaknya akan kekal di neraka.

5. Mereka menganggap bahwa hanya daerahnya yang disebut dar al-Islam, dan daerah orang yang melawan mereka adalah dar al-harb. Karenanya, orang yang tinggal dalam wilayah dar al-harb, baik anak-anak maupun wanita, boleh dibunuh.

6. Ajaran agama yang harus diketahui hanya ada dua, yakni mengetahui Allah dan rasul-Nya. Selain dua hal itu tidak wajib diketahui.

7. Melakukan taqiyyah (menyembungikan keyakinan demi keselamatan diri), baik secara lisan maupun perbuatan adalah dibolehkan bila keselamatan diri mereka terancam.

8. Dosa kecil yang dilakukan secara terus menerus akan berubah menjadi dosa besar dan pelakunya menjadi musyrik.

9. Imam dan khilafah bukanlah suatu keniscayaan. Tanpa imam dan khilafah, kaum muslimin bisa hidup dalam kebenaran dengan cara saling menasihati dalam hal kebenaran.

b. Murji’ah
Aliran Murji’ah adalah aliran Islam yang muncul dari golongan yang tak sepaham dengan Khowarij. Ini tercermin dari ajarannya yang bertolak belakang dengan Khowarij. Pengertian murji’ah sendiri ialah penangguhan vonis hukuman atas perbuatan seseorang sampai di pengadilan Allah SWT kelak. Jadi, mereka tak mengkafirkan seorang Muslim yang berdosa besar, sebab yang berhak menjatuhkan hukuman terhadap seorang pelaku dosa hanyalah Allah SWT, sehingga seorang Muslim, sekalipun berdosa besar, dalam kelompok ini tetap diakui sebagai Muslim dan punya harapan untuk bertobat .

Tokoh utama aliran ini ialah Hasan bin Bilal Muzni, Abu Sallat Samman, dan Diror bin ‘Umar. Dalam perkembangan selanjutnya, aliran ini terbagi menjadi kelompok moderat (dipelopori Hasan bin Muhammad bin ‘Ali bin Abi Tholib) dan kelompok ekstrem (dipelopori Jaham bin Shofwan).

Secara garis besar, ajaran-ajaran pokok Murji’ah adalah:
1. Selama meyakini 2 kalimah syahadat, seorang Muslim yang berdosa besar tak dihukum kafir. Hukuman terhadap perbuatan manusia ditangguhkan, artinya hanya Allah yang berhak menjatuhkannya di akhirat.

2. Iman itu adalah tashdiq saja atau pengetahuan hati saja atau iqrar saja.

3. Amal itu tidak masuk dalam hakekat iman dan tidak pula masuk dalam bagiannya.

4. Iman tidak bisa bertambah atau berkurang.

5.Orang yang berbuat maksiat tetap dikatakan Mu’min kamilul Iman ( mukmin yang sempurna imannya) sebagaimana sempurnanya tashdiq mereka (tidak dapat tergoyahkan dengan apapun) dan di akhirat kelak ia tidak akan masuk neraka.

6. Manusia itu pencipta amalnya sendiri dan Allah tidak dapat melihatnya diakhirat nanti. (Ini seperti pemahaman Mu’tazilah)

7. Sesungguhnya Imamah itu tidak wajib, kalaupun Imamah itu ada, maka Imamnya itu boleh datang dari golongan mana saja walaupun bukan dari Quraisy. (dalam masalah ini pemahamannya seperti Khawarij).

7. Bodoh kepada Allah itu adalah kufur kepada-Nya.

c. Qadariyah
Aliran Qadariyah adalah aliran teologi yang memandang bahwa manusia memiliki kekuatan (qudrah) untuk menentukan perjalan hidupnya dan untuk mewujudkan perbuatannya. Sehingga manusia mempunyai kebebasan dan kekuatan sendiri untuk mewujudakn perbuatan-perbuatannya tanpa bantuan dari Allah SWT. Aliran ini pertama kali diperkenalkan oleh Ma’bad al-Juhani dan Ghilan al-Dimasqi .

d. Jabariyah
Faham Aliran Jabariyah adalah kebalikan dari aliran Qadariyah, Jabariyah memandang bahwa Tuhanlah yang menentukan perjalanan hidup manusia dan yang mewujudkan perbuatannya. Menurut aliran ini manusia tidak mempunyai kemerdekaan dalam menentukan perjalanan hidup. Mereka hidup dalam keterpaksaan (jabbar). Aliran ini pertama kali diperkenalkan oleh Ja’ad bin Dirham, meskipun yang lebih banyak meyebarkannya adalah jahm bin shafwan dari khurasan .

e. Mu’tazilah
Aliran muktazilah adalah kelompok ajaran teologi yang didasarkan analisis filosofis, mereka banyak menggunakan kekuatan akal . Kelompok pemuja akal ini muncul di kota Bashrah (Irak) pada abad ke-2 Hijriyah, antara tahun 105-110 H, tepatnya di masa pemerintahan khalifah Abdul Malik bin Marwan dan khalifah Hisyam bin Abdul Malik. Pelopornya adalah seorang penduduk Bashrah mantan murid Al-Hasan Al-Bashri yang bernama Washil bin Atha’ Al-Makhzumi Al-Ghozzal.

Muktazilah adalah aliran teologi yang dekat dengan kekuasaan dinasti Abbasiyah fase pertama. Pada zama pemerintahan al-Makmun, muktazilah dijadikan mazhab resmi yang dianut oleh negara.

Ajaran-jaran pokok aliran muktazilah:
1) Ke-Esaan Tuhan (al-Tauhid)
Yang mereka maksud dengan At-Tauhid adalah mengingkari dan meniadakan sifat-sifat Allah, dengan dalil bahwa menetapkan sifat-sifat tersebut berarti telah menetapkan untuk masing-masingnya tuhan, dan ini menurut mereka suatu kesyirikan kepada Allah.

2) Keadilan Tuhan (al-‘Adl)
Yang mereka maksud dengan keadilan adalah keyakinan bahwasanya kebaikan itu datang dari Allah, sedangkan kejelekan datang dari makhluk dan di uar kehendak (masyi’ah) Allah. Menurut mereka kesukaan dan keinginan merupakan kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Sehingga mustahil bila Allah tidak suka terhadap kejelekan, kemudian menghendaki atau menginginkan untuk terjadi (mentaqdirkannya).

3) Janji dan ancaman (al-Wa’d wa al-Waid)
Yang mereka maksud dengan landasan ini adalah bahwa wajib bagi Allah untuk memenuhi janji-Nya (al-wa’d) bagi pelaku kebaikan agar dimasukkan ke dalam Al-Jannah, dan melaksanakan ancaman-Nya (al-wa’id) bagi pelaku dosa besar (walaupun di bawah syirik) agar dimasukkan ke dalam An-Naar, kekal abadi di dalamnya, dan tidak boleh bagi Allah untuk menyelisihinya.

4) Posisi diantara dua tempat (al-Manzilah bain al-Manzilatain)
Yang mereka maksud adalah, bahwasanya keimanan itu satu dan tidak bertingkat-tingkat, sehingga ketika seseorang melakukan dosa besar (walaupun di bawah syirik) maka telah keluar dari keimanan, namun tidak kafir (di dunia). Sehingga ia berada pada suatu keadaan di antara dua keadaan (antara keimanan dan kekafiran).

5) Amar ma’ruf nahi munkar
Di antara kandungan landasan ini adalah wajibnya memberontak terhadap pemerintah (muslim) yang zalim.

f. Ahlussunah wal Jama’ah
Ahlus-Sunnah wal Jama’ah (أهل السنة والجماعة) atau lebih sering disingkat Ahlul-Sunnah (bahasa Arab: أهل السنة) atau Sunni adalah orang-orang yang mengikuti sunnah dan berpegang teguh dengannya dalam seluruh perkara yang Rasulullah berada di atasnya dan juga para sahabatnya. Oleh karena itu Ahlus Sunnah yang sebenarnya adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan orang-orang yang mengikuti mereka sampai hari kiamat .

Ahlussunnah dibawa oleh Abu Musa al-Asy’ari, beliau pada awalnya adalah pengikut muktazilah dan kemudian Ia menentang muktazilah dan menyatakan keluar dari muktazilah dan mengembangkan ajaran ahlussunah yang merupakan peng-counter terhadap gagasan-gasan muktazilah .

Pokok ajaran aliran ini adalah ke Mahakuasaan Tuhan yang Keadilan-NYA telah tercakup dalam kemahakuasaan-NYA.

2. Aspek Syari’ah
Ajaran Islam tidak terhenti pada kepercayaan saja. Setelah kita meyakini rukun iman sebagai wujud keimanan (akidah), kemudian kita harus melakukan sesuatu yang benar dan menghindari sesuatu yang salah, dan dengan Syariah lah kita dapat megetahui yang benar dan yang salah tersebut .

Syariah berisi peraturan dan hukukm-hukum yang menentukan garis hidup yang harus dilalui oleh seorang muslim. Dalam Islam, Syariah itu berasal dari Allah SWT, maka sumber-sumber hukum dan undang-undang datang dari Allah sendiri yang disampaikan kepada manusia dengan perantaraan rasul dan termaktub dalam kitab suci. Berbeda dengan akidah yang sifatnya tetap, syariah berkambang seiring dengan perkembangan zaman, karena itu, syariat yang berlaku pada zaman nabi Nuh berbeda dengan Nabi-Nabi yang lain .

Syariat terbagi menjadi 2 bagian, yakni bagian Ibadah yang mengatur hubungan antara manusia dengan Allah (hablum minallah) dan bagian muamalah yang mengatur hubungan antara sesama manusia (hablum minannas). Bagian ibadah terangkum dalam rukun islam (syahadat, Sholat, shaum, zakat, haji) dan umunya tidak terjadi perubahan apapun karena rukun Islan yang lima tidak akan pernah berubah sejak zaman Nabi. Sedangkan muamalat mencakup semua aspek hidup manusia dalam interksinya dengan manusia lain, permasalahan antar sesama pada zaman Nabi tentunya akan sangan berbeda dengan kondisi sekarang sehingga bagian muamalat dan akan selalu berkembang sesuai dengan perubahan waktu dan tempat, Rasulullah pernah bersabda: “Antum a’lamu bi umuri dunyakum” kalian lebih mengerti urusan dunia kalian”.

a. Syariah dan Fiqih
Syariah islam dalah hukum-hukum dan peraturan yang dibebankan Allah kepada hamba-hamba-NYA. Syariat berisi perintah-perintah dan larangan-larangan (hukum taklifi), yang kemudian para ulama berusaha untuk memahami dan menafsirkan perintah dan larangan tersebut, dengan menggunakan metode tertentu. Hasil dari memahami dan menafsirkan perintah dan larangan inilah kemudian dinamakan fiqh .
Karena syariah terbagi menjadi 2 bagian, maka sebagai konsekuensinya fikih juga terbagi menjadi 2 bagian, yang pertama adalah fikih Ibadah yang merupakan tafsiran ulama atas perintah dan larangan dalam bidang ibadah dan yang kedua fikih muamalah yang merupakan tafsiran ulama atas perintah dan larangan dalam bidang muamalah.

b. Perbedaan Mazhab Fiqih
Dalam memahami syariah dan juga fikih, para ulama menggunakan metode dan pendekatan yang berbeda antara ulama yang satu dengan ulama yang lainnya, sehingga mengakibatkan perbedaan pula pemahaman dan penafsiran para ulama yang kemudian berakibat pada munculnya berbagai aliran pemahaman atau biasa disebut dengan mazhab dalam memahami syariah dan fikih.

Perbedaan mazhab bukan pada hal Aqidah (pokok keimanan) tapi lebih pada tata cara ibadah. Para Imam mengatakan bahwa mereka hanya ber-ijtihad dalam hal yang memang tida ada keterangan tegas dan jelas dalam Alquran atau untuk menentukan kapan suatu hadis bisa diamalkan dan bagaimana hubungannya dengan hadis-hadis lain dalam tema yang sama.

Dalam aliran fikih, dikenal 4 mazhab yang paling populer, yaitu:
1) Mazhab Hanafi
Mazhab Hanafi dibawa oleh Imam al A’Zham Abu Hanifah, Al-Nu’man bin Thabit bin Zuwata al-Kufi. Dilahirkan pada tahun 80H dan telah meniggal dunia pada tahun 150H. Beliau hidup dalam dua zaman pemerintahan yaitu zaman pemerintahan Bani Umaiyah dan Bani Abassiyah. Imam Abu Hanifah adalah imam al-ra’yu dan ahli fiqah Iraq, beliau sangat berhati-hati dalam menerima hadis. beliau menggunakan Qias dan Istihsan.

Kaidah pengambilan hukum Imam Hanafi
Kaidah pengambilan hukum yang digunakan oleh Imam Hanafi ialah beliau akan lebih mengutamakan al-Quran dan Sunnah setelah itu beliau akan mengambil pendapat sahabat dan sekiranya masih tidak dijumpai, beliau akan beralih pula pada ijma’ dan Qias. Kaedah terakhir yang akan digunakan sekiranya masih tiada penyelesaian ialah menggunakan Istihsan dan al- urf (kebiasaan).

Abu Hanifah sangat menghormati para sahabat dan menganggap pendapat mereka satu perkara yang wajib diikuti, lebih-lebih lagi dalam perkara yang mencapai kata ijma’ dikalangan mereka. Dalam perkara-perkara yang dipertikaikan, beliau menggunakan fikirannya memilih suatu pandangan yang bersesuaian atau lebih hampir kepada dasar-dasar am dalam syariat ini.

2) Mazhab Maliki
Imam Malik bin Anas bin Abu Amir al-Asbahi ialah penggasas mazhab ini dan beliau juga merupakan seorang imam fiqah dan Hadis Darul Hijrah (Madinah). Beliau dilahirkan pada zaman al-Walid bin Abdul Malik dan meninggal di Madinah pada zaman pemerintahan al-Rasyid.

Imam Malik merupakan seorang tokoh dalam bidang hadis dan fiqh. Kitab beliau al-Muwatta’ merupakan penyumbang besar dalam bidng hadis dan fiqh. Imam As-Syafi’i pernah berkata ,” Malik adalah guru saya, saya menuntut ilmu darinya”. Beliau adalah hujah diantara saya dengan Allah SWT. tidak ada seorang pun yang berjasa kepada saya lebih daripada Malik.

Kaedah Pengambilan Hukum Imam Maliki
Kaedah pertama yang dilaksanakan oleh Imam Malik dalam menyimpulkan sesuatu hukum ialah dari al-Quran dan Assunnah. Jika tidak didapati dari kedua-dua sumber hukum utama ini maka beliau akan beralaih pula dengan kaedah Ijma’ serta Qias dan kemudiannya beliau akan menggunakan pula kaidah Mashalih al-Mursalah. Imam Malik sentiasan mengutamakan al-Quran dalam menyusun dalil-dalilnya dengan terang. Beliau mengutamakn nas-nasnya, kemudian zahirnya, kemudian pengertiannya yang difahami darinya. Kemudian beliau akan beralih pula kepada Assunnah dengan mendahulukan yang mutawatir, kemudian yang mashur, dan kemudiannya yang ahad, kemudiannya mengikut susunan-susunan nasnya zahirnya dan pengertian-pengertian yang difahami darinya. Kemudian beliau akan beralih pula kepada Ijma’. Apabila semua sumber pokok ini tidak ada maka barulah beliau menggunakan qias serta menyimpulkan hukum-hukum daripadanya”.

3) Mazhab Syafi’i
Mazhab ini digagas oleh Al-Imam Abu Abdullah, Muhammad bin Idris al-Qurasyi al- Hasyimi al-Muttalibi bin al-Abbas bin Othman bin Syafi’i,(rahimahullah) masih senasab dengan Rasulullah SAW. Beliau dilahirkan di Ghazzah Palestin pada tahun 150H. Imam Syafie diasuh dan dibesarkan dalam keadaan anak yatim. Beliau telah menghafal al-Quran sejak kecil.

Imam Ahmad bin Hanbal telah bertemu dengan Imam Syafie di Makkah pada tahun 187H dan di Baghdad pada tahun 195H. Beliau mengajar Imam Ahmad ilmu fiqah dan usul fiqah serta ilmu nasikh dan mansukh al-Quran.

Di antara hasil karya beliau ialah al-Risalah yang merupakan penulisan pertamanya dalam bidang ilmu usul fiqah dan kitab al-umm di bidang fiqh berdasarkan mazhab jadidnya. Imam As-Syafie adalah seorang mujtahid yang mutlak. Beliau merupakan imam dalam bidang fiqah, Hadis dan usul. Beliau telah berjaya mencantumkan ilmu fiqah ulama hijaz dengan ulama Iraq. Imam Ahmad pernah menyebut bahawa Imam Syafie adalah orang paling alim

Kaedah Pengambilan Hukum Imam Syafi’i
Sumber Mazhab Imam Syafie ialah al-Quran dan sunnah. kemudiannya diikuti pula oleh ijma’dan qias. Beliau tidak mengambil pendapat sahabat karena merupakan ijtihad yang berkemungkinan salah. Beliau juga tidak beramal dengan istihsan yang diterima dalam mazhab Hanafi dan Maliki. Dalam hal ini, beliau pernah berkata “siapa yang melakukan istihsan berarti membuat syariat sendiri”. Beliau juga telah menolak mashalih al-mursalah.

4) Mazhab Hambali
Penggasasnya yaitu Imam Abu Abdullah, Ahmad bin Hanbal bin Hilal bin Asad al-Zuhaili al-Shaibani. Beliau telah dilahirkan dan dibesarkan di Baghdad dan beliau juga telah wafat di sana pada bulan Rabiulawal. Imam Ahmad telah mempelajari ilmu fiqah dari Imam Syafi’i ketika di Baghdad. Akhirnya Imam Ahmad menjadi seorang mujtahid mustaqil.

Beliau merupakan imam dalam bidang Hadis, Sunnah dan fiqh. Imam Syafi’i berkata pada masa beliau meninggalkan Baghdad menuju ke Mesir, “ aku keluar dari Baghdad dan tidak meninggalkan orang yang lebih taqwa dan alim dalam bidang fiqah selain ibnu Hanbal”.

Kaedah Pengambilan Hukum Imam Hambali
Imam Ahmad bin Hanbal sebagaimana imam-imam yang lain meletakkan al-Quran dan Assunnah sebagai sumber utama dalam perundangan Islam. Beliau juga beramal dengan Ijma’ dan qias, kalau terdapat nas yang nyata dalam al-Quran dan hadis mutwatir, tidak harus berpegang kepada sumber-sumber lain seperti pendapat sahabat atau qias, tetapi terdapat juga perbedaan antara beliau dan imam-imam mujtahid yang lain dalam menyimpulkan sesuatu hukum seperti penggunaan Istishab dan Sad al-dzara’i.

3. Aspek Akhlak
Selain masalah benar atau salah yang diatur oleh syariah, masih ada masalah lain yaitu masalah baik dan buruk, indah dan jelek yang menyangkut perilaku manusia. Persolan baik dan buruk ini tidak dibahas dalam bab syariah akan tetapi dibahas dalam bab akhlak (etika) .
Seperti halnya syariat yang mengatur hablum minallah dan hablum minannas, Akhlak juga demikian, akhlak memberikan panduan seseorang harus berperilaku terhadap Allah dan juga terhadap sesama makhluk.

Akhlak merupakan tujuan puncak dari diutusnya nabi-nabi dan menjadi tolok ukur kualitas keberagaman seseorang. Sebagaimana sabda Nabi SAW:
اِنَْمَا بُعِثْتُ ِلاُتَمِْمَ مَكَارِمَ اْلاَخْلاَقِ (رواه احمد)
“Sesungguhnya aku diutus oleh Allah untuk menyempurnakan keluhuran akhlak (budi pekerti)” (HR. Ahmad)

Secara bahasa akhlak berasal dari kata اخلق – يخلق – اخلاقا artinya perangai, kebiasaan, watak, peradaban yang baik, agama. Kata akhlak sama dengan kata khuluq.

Menurut Istilah, akhlak adalah:
1. Ibnu Miskawaih: sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melaksanakan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran danpertimbangan.

2. Imam Ghazali: sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan yang mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.

Ruang lingkup Kajian Ilmu Akhlak:
1) Perbuatan-perbuatan manusia menurut ukuran baik dan buruk.
2) Objeknya adalah norma atau penilaian terhadap perbuatan tersebut.
3) Perbuatan tersebut baik perbuatan individu maupun kolektif.

Pada hakekatnya khulk (budi pekerti) atau akhlak ialah suatu kondisi atau sifat yang telah meresap dalam jiwa dan menjadi kepribadian hingga dari situ timbullah berbagai macam perbuatan dengan cara spontan dan mudah tanpa dibuat – buat dan tanpa memerlukan pemikiran. Beberapa istilah lain yang senada dengan istilah akhlak ialah etika, moral, dan kesusilaan. Pokok pembahasan akhlak tertuju pada tingkah laku manusia untuk menetapkan nilainya, baik atau buruk, dan daerah pembahasan akhlak meliputi seluruh aspek kehidupan manusia, baik sebagai individu maupun masyarakat. Dalam perspektif perbuatan manusia, tindakan atau perbuatan dikategorikan menjadi dua, yaitu perbuatan yang lahir dengan kehendak dan disengaja (akhlaki) dan perbuatan yang lahir tanpa kehendak dan tak disengaja.

Hubungan Akhlak dengan Tasawuf:
Akhlak dan Tasawuf saling berkaitan. Akhlak dalam pelaksanaannya mengatur hubungan horizontal antara sesama manusia, sedangkan tasawuf mengatur jalinan komunikasi vertikal antara manusia dengan Tuhannya. Akhlak menjadi dasar dari pelaksanaan tasawuf, sehingga dalam prakteknya tasawuf mementingkan akhlak.

Ilmu tasawwuf pada umumnya dibagi menjadi tiga, pertama tasawwuf falsafi, yakni tasawwuf yang menggunakan pendekatan rasio atau akal pikiran, tasawwuf model ini menggunakan bahan–bahan kajian atau pemikiran dari para tasawwuf, baik menyangkut filsafat tentang Tuhan manusia dan sebagainnya. Kedua, tasawwuf akhlaki, yakni tasawwuf yang menggunakan pendekatan akhlak. Tahapan–tahapannya terdiri dari takhalli (mengosongkan diri dari akhlak yang buruk), tahalli (menghiasinya dengan akhlak yang terpuji), dan tajalli (terbukanya dinding penghalang [hijab] yang membatasi manusia dengan Tuhan, sehingga Nur Illahi tampak jelas padanya). Dan ketiga, tasawwuf amali, yakni tasawwuf yang menggunakan pendekatan amaliyah atau wirid, kemudian hal itu muncul dalam tharikat.

Sebenarnya, tiga macam tasawwuf tadi punya tujuan yang sama, yaitu sama–sama mendekatkan diri kepada Allah dengan cara membersihkan diri dari perbuatan yang tercela dan menghiasi diri dengan perbuatan yang terpuji (al–akhlaq al-mahmudah), karena itu untuk menuju wilayah tasawwuf, seseorang harus mempunyai akhlak yang mulia berdasarkan kesadarannya sendiri.

Bertasawwuf pada hakekatnya adalah melakukan serangkaian ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Ibadah itu sendiri sangat berkaitan erat dengan akhlak. Menurut Harun Nasution, mempelajari tasawwuf sangat erat kaitannya dengan Al-Quran dan Al-Sunnah yang mementingkan akhlak. Cara beribadah kaum sufi biasanya berimplikasi kepada pembinaan akhlak yang mulia, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Di kalangan kaum sufi dikenal istilah al- takhalluq bi akhlaqillah, yaitu berbudi pekerti dengan budi pekerti Allah, atau juga istilah al-ittishaf bi sifatillah, yaitu mensifati diri dengan sifat–sifat yang dimiliki oleh Allah.

Jadi akhlak merupakan bagian dari tasawwuf akhlaqi, yang merupakan salah satu ajaran dari tasawwuf, dan yang terpenting dari ajaran tasawwuf akhlaki adalah mengisi kalbu (hati) dengan sifat khauf yaitu merasa khawatir terhadap siksaan Allah.

Referensi
Adiwarman Karim, Bank Islam: Analisis Fikih dan Keuangan, (Jakarta: PT.RajaGrafindo Persada, 2004)
Atang Abd. Hakim, dan Mubarak, Jaih, Metodologi Studi Islam (Bandung PT. Remaja Rosdakarya, 2006)

http://id.wikipedia.org/wiki/

http://www.dakwatuna.com/


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

Pojok Biru

kertas-kertas mimpi, inspirasi, dan cerita biru

Anis Matta

Sang Gelombang Abad 21

Zulfi Akmal

Belajar Dari Kehidupan...

Dunia Noerffa

Biarkan duniaku hanya milikku, padaku dan utuk kehidupan ...

Rois

Menapaki hidup yang dinamis dengan langkah optimis

A Social Worker, A Great Dreamer

Catatanku

Ini adalah album yang berisi catatan yang saya tulis dalam perjalanan waktu hidup. Catatan yang terinspirasi dari apa yang saya lihat, saya baca, saya dengar, dan saya rasakan.

Kisah Seribu Satu Masa

kejayaan dimulai dari "bacalah!"

amerudesu

Tulisan ini adalah bukti bahwa aku pernah ada :)

belajar sampai gila!

gemar belajar, cinta belajar, sampai gila belajar

I love life, life loves me.

A wish to live wisely, beautifully, happily.

Berbagi Kisah

Persinggahan Kata dan Perjalanan Kalimat; Menebar Makna: Bermanfaat untuk sesama

Catatan Perjalanan

"Beramal, Berdo'a, Tawakkal dan Beramal saja..."

Iman Milyarder

Inspirasi Kehidupan

Jojo Update

Fulfilling Your Life!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,162 other followers

%d bloggers like this: