Feeds:
Posts
Comments

-It’s Me!-

This slideshow requires JavaScript.

Merantaulah….
Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman.
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang.
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan.
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.
Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan.
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang.
Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa.
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran.
Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam.
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang.
Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang.
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan.

(Imam Syafi’i)

ENJOY THE PROSES

Terkadang kita lupa dengan satu hal ini, ya “enjoy the process”. Kita terlalu banyak menuntut dan memaksa Allah untuk menuruti dengan mengabulkan setiap keinginan kita dengan cepat, padahal, siapalah kita? Apa hak kita sampai bisa mengintervensi kehendak Allah? Bukannya Allah yang menciptakan kita? Dia yang memberikan kita kesempatan menginjakkan kaki di bumi Nya, dia juga yang secara sukarela memberikan rizki kepada kita. Lalu mengapa kita terlalu banyak menuntut? Tak malukah kita kepada Nya?

Inilah yang harus menjadi renungan buat kita semua, bukankah Rasulullah saw pernah ditegur oleh Allah? Ketika beliau mngharapkan ampunan bagi pamannya, Abu Thalib, agar bisa memeluk Islam? Hal ini ditegaskan dalam alqur’an surat at-Taubah..

”Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam”. (QS. At-Taubah [9]: 113)

”Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”. (QS. Al-Qashash [28]: 56)

Ingat juga ketika Nabi Nuh yang menangis ketika melihat anaknya, yang pada saat itu tidak mau naik keatas bahtera Nuh? Allah langsung menegurnya dengan keras, bahwa Nuh hanyalah pemberi peringatan, tidak pantas ia menangisi anak karena kesalahannya sendiri yang tidak mau taat kepada perintah Allah, dan ketika Nuh meminta agar anaknya selamat, Allah kemudian menegurnya. Berikut kisah Nuh dan keinginan menyelamtkan anaknya, yang tertulis dalam al-Qur’an surat Hud:

”Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.” (QS. Hud [11]: 42)

”Anaknya menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” Nuh berkata: “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang.” Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan”. (QS. Hud [11]: 43)

”Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.” (QS. Hud [11]: 45)

”Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya[722] perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.” (QS. Hud [11]: 46)

Nuh berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Hud [11]: 47)

Sebegitu besar keinginan Nuh tidak bisa meluluhkan kehendak Allah, karena hanya Dia-lah yang mempunyai kekuasaan atas hamba-Nya.

Mungkin contoh diatas memang tidak terlalu mengena tentang bagaimana seharusnya menikmati proses, tapi jika hal demikian kita ambil ibrahnya, sungguh tidak sopannya diri ini yang selalu menuntut kepada Allah. Terkadang kita menuntut Allah agar sesuai dengan keinginan kita, apa kita ga mikir? Selama ini Allah sudah memberikan kepada kita segala yang kita tidak pernah memintanya, sekarang kita masih juga menuntut Allah memberikan sesuatu kepada kita. (oh… malunya diri ini)..

[Bersambung…]

Suatu malam, ada seorang sahabat, yang menyapa via chat FB, dan meminta sharing….

“mau numpang tanya.. mau sharing.. ada waktu gak?”

“emang mau sharing apaan brader?”

“oh… gak.. cuma mau Tanya, tp jangan ketawa ya? Hehehe ^_^”

“yeee… minta jgn ketawa, malah ketawa duluan, apaan dlu?”

“pacaran itu sebenarnya boleh gak sih? wkwkwkw. tapi serius ini sy Tanya sebenarnya boleh gak ya?”

“yg jelas, Allah dan Rasul-Nya ga prnah nyuruh pacaran… Allah melarang manusia utk mendekati Zina (apalagi melakukannya). Zina jgn di artikan mentah2, Zina bukn cuma berhubungn, tp ada zina2 kecil lainnya, seperti pegangan tangan yg bukan mahram, beradu pandang dgn sengaja krn hasrat, bahkan hanya memikirkan dihati pun bs dianggap zina”

“oh gitu.. terus?”

“sgala sesuatu itu di pandang dr kehalalannya, jka seseorang tu sudah halal bg kita, kita boleh memikirkan, berpegangan bahkan sampai yang lebih jauh lagi. jd, jka perempuan itu blm halal, brarti kita ga boleh melakukannya. Secara manusia, kita pasti prnah melakukan zina2 kecil itu, maka yg hrs dilakukan adalah menjaga hati kita agar tdk celah utk melakukan smw itu”

“nah… tapi kalo begitu kan gimana? caranya biar kita kenal. artinya mengenal, yg secarah sah. tapi belum berarti secara ikatan pernikahan artinya perkenalan yg di anggap baik”

“sbnrnya kita boleh kenal sama siapa saja, lawan jenis sekalipun… tp klo memang sudah mau serius, lebih baik diseriusin, lbh menjaga izzah (harga diri) kedua belah pihak…”

“ohh.. kalau berteman aja gimana? itu boleh gak? misalnya saling komunikasi”

“berteman mah ga apa2, sama siapa aja… komunikasi jg ga apa2, asalkan hati kita bs steril dr lintasan2 nafsu/syahwat yg mungkin saja dan kapan saja bs menyerang. tp apakah benar kita sanggup menjaga hati kita steril??? Syetan itu bs datang kapan saja, dan bs mengganggu siapa saja.  banyak kisah para ulama yg tergoda oleh godaan syetan dengan perantara perempuan… Imam Syafi’i prnah hapalan al-Qur’annya hilang krn tdk sengaja melihat betis perempuan… (tdk sengaja aja godaan syetan, apalagi kita yg disengaja)”

“jadi gak adil dong, hehe.. maksudnya begini Allah itu kan Tuhan kita dan segala sesuatu nya Dia menciptakan dunia dan alam bahkan benda itu pun ada fungsinya.  nah… berarti bagaimana dengan posisi perempuan? kan mereka jg pasti sama ingin kenal dan inign deket walaupun cuma komunikasi itu gimana”

“di awal kan udang ditulis, kita kenalan sama siapa saja boleh, sama perempuan jg boleh, tp… ini ada tapinya, tapi hendaklah kita bs menjaga hati kita agar tdk terpancing oleh kilatan2 nafsu gangguan syetan, itu yg penting! begitupun perempuan, mereka boleh berteman sama siapa saja, sama laki2 mana saja, tp mereka jg hrs mnjaga hati mereka agar tdk tergoda.. begitu mas.. hehe (gw Sok tua banget yah)”

“jiahh.. enggak lah… namananya jg sharing maklum kan soalnya kan kamu memperdalam ilmu agamanya (red-kuliah di kampus agama) kalo sy engga bisa di satukan”

“Wa wa wa wa wa waduh, jgn gitu donk, bs jd ilmu agama kamu lbh dalam dr saya.. saya cuma hanya menulis seperti yg saya tau saja. Hm… roman2 nya mah, kaya lg deket sama perempuan nih.. hehe”

“bukan deket.. cuma ada yg mau berusaha deket”

“Ceileeeeeh… udah atuh deketin lg ajah, hahaha (red-diseriusin)”

- Ya Allah, Tuhan semesta alam, tiada Tuhan selain Engkau, Engkau yang Maha Suci, Maha Besar dan Maha segalanya…. semoga Engkau tetap memberikan hidayah kepada hamba-hambaMu, meluruskan jalan mereka yang tersesat, menyatukan mereka yang terpisah, melanggengkan mereka yang telah bersama. Jagalah hati ini agar tetap mengingat-Mu, kami hamba-Mu yang selalu lalai, jauhkan kami dari segala fitnah, semoga Engkau mengabulkan pinta hamba-hamba-MU, Amiin-

Notes ini hanya notes biasa, bisa jd juga hanya notes yg ga penting, saya hanya ingin menambah koleksi notes di saja, ga lebih…

Satu hari, saya mendapat sms dari ade kelasku semasa sekolah dulu, sudah lama sekali kita ga saling berkomunikasi. Hanya baru beberapa bulan belakangan semenjak akun FB nya meng-add akun FB-ku…. Sampai akhirnya dia kirim pesan lewat sms:

Ade     : Assalamkm. Aa gi ngaP.. lg sibuk ga?

Cholid : Alaikumsalam. Lg santai aja nih, emang ada apa dHe?

Ade     : Gda pP… Pngn ngbroL” ja.. GmN  pny kbr??

Cholid : oOoo… kirain ada apa, kbr alhamdulillah sehat, dHe” gmana?

Ade     : Alhamdulillah… jauh lbh baik dr sblm’y and skrg jg dh mNuruti prnth Allah tk mMakai jilbab and da hikmah stlh dhe mNgenakn jilbab..

Cholid : Alhamdulillah…  eh, dHe ga mamingan tach??

Ade     : Haha_ Nte mKiran mAming A…  Aa, dHe2 da yg ngLamar nWech

Cholid : Wah.. siapa dhe? Aa kenal ga?

Ade     : Da lah A,, Cma ade msh bngung tw..

Cholid : Lho.. koq bingung, knp?

Ade     : Ya, krn msh bimbang ati’y. Gmn ya A cr’y biar Qta dpt kTetapn hti..

Cholid : dhe udh istikhoroh blm? Qta hnya bs ikhtiar, ttap Allah yg menntukn, smga dgn bgtu qta diberikn ketetapn ht.. amin

Ade     : Blm sie A… Ya mYbe nti dhe lKsanain and psti d’lksanain. Mksh ya abang ku…

Cholid : Iya, masama dhe (sambil tersenyum denger berita gembira dr ade’ku ini).

Saya bukan hendak menulis ttg bagaimana tata cara melamar ataupun cara menerima lamaran dgn baik, tp dr prbincangan via sms dgn ade’ku ini, saya hanya ingin mengambil sebuah pelajaran. Pertama, bahwa satu perbuatan baik akan menghantarkan kita kpd perbuatan baik lainnya. saya mengutip dr pesan yg di kirim ke saya, “Alhamdulillah… jauh lbh baik dr sblm’y and skrg jg dh mNuruti prnth Allah tk mMakai jilbab and da hikmah stlh dhe mNgenakn jilbab...

Sehingga tak berlebihan kiranya jika saya berkesimpulan sederhana seperti diatas, bahwa perbuatan baik akan menghantarkan kita kpd perbuatan baik lainnya, saya teringat dgn sebuah film Hollywood “Pay it Forward”, kisah ttg seorang anak kecil yang percaya bahwa setiap perbuatan baik yg kita lakukan pasti akan berbuah pada perbuatan baik lainnya. Ia membuat satu gambaran sistem (seperti sistem pd MLM), dia melakukan perbuatan baik kpd 3 org, sebagai balasannya masing-masing dr 3 org itu akan melakukan 3 kebaikan kpd org lain dan 3 org yang lainnya juga akan melakukan 3 perbuatan baik lagi dan begitu pula seterusnya, sehingga tercipta sebuah rantai kebaikan yang tak pernah terputus. [Hehehe.... ga nyambung yah?? Bodo ah.. ^_^]

Kedua, setelah berbincang lewat sms dgn ade’ku ini, saya terkagum dengan laki-laki yg melamarnya, krn menurut saya jika seorang laki-laki telah berani memutuskan untuk melamar seorang perempuan, maka secara logika ia telah siap dengan segala resiko dan konsekuensinya, ia telah menyiapkan diri secara lahir maupun bathin.

Saya teringat dengan obrolanku bareng teman2, jika kita menghadap ke orang tua pihak perempuan, minimalnya orang tua perempuan itu nanya ttg pekerjaan kita (mhn maaf, bukan bermaksud men-generalisir sih, tp emang poin ini akan ditanyain kan?? Hehehe…), makanya persiapkan diri kita untuk menjawab pertanyaan itu!. Terlebih lagi persiapan bathin/perasaan kita, kalo-kalo lamaran kita nanti ditolak oleh pihak perempuan, maka kita juga hrs pula menyiapkn diri untuk itu. [hehehe.... piss ^_^v ]

Udah lah… ga ada bakat buat nulis kaya ginian… yg penting koleksi notes saya nambah satu,hehehe…., yg mau nerusin silahkan terusin dah… monggooo…

 

Menurut psikologi marah adalah perasaan. Amarah datang dari bagian otak yang sangat tua dan biasanya berlangsung hanya selama satu hingga dua detik saja. Namun amarah ini bisa berlangsung dalam jangka waktu lama.

Marah juga dapat dikatakan sebagai reaksi kuat atas sesuatu yang tidak menyenangkan dan mengganggu pada seseorang. Ragamnya mulai dari kejengkelan yang ringan sampai angkara murka dan mengamuk. Ketika itu terjadi maka detak debar jantung semakin cepat, tekanan darah dan aliran adrenalin juga meningkat.

Ciri-ciri orang yang sedang Marah : Tekanan darah meningkat, Hormon stress meninggi, nafas jadi pendek, jantung berdebar, gemetar, membentak, pupil berkontraksi tidak teratur, kekuatan fisik meningkat, cara bicara dan gerak lebih cepat dan sering, lebih sensitif. Bahkan bias jadi impotensi (wah berabe tuh),

Jelas tanda-tanda ini akan mengakibatkan pergerakan sel dan hormon dalam tubuh jadi tak sesuai.

Marah adalah sifat alamiah. Walau bersifat alami dan normal namun marah tidak timbul dengan sendirinya. Ia merupakan respon dari seseorang ketika mendapat ancaman, hal yang membahayakan, kekerasan verbal, perlakukan tidak adil, kebohongan dan manipulasi oleh orang lain. Dengan kata lain marah timbul karena batas-batas emosi yang kita miliki telah terganggu atau terancam.

Memang, menahan marah bukan pekerjaan gampang, sangat sulit untuk melakukannya. Ketika ada orang bikin gara-gara yang memancing emosi kita, barangkali darah kita langsung naik ke ubun-ubun, tangan sudah gemetar mau memukul, sumpah serapah sudah berada di ujung lidah tinggal menumpahkan saja (Na’udzubillah). Anthoni Dio Martin menyebutnya pembajakan amikdala. Tapi jika saat itu kita mampu menahannya, maka bersyukurlah, karena kita termasuk orang yang kuat.

Sebenarnya kita tidak dilarang marah, namun diperintahkan untuk mengendalikannya agar tidak sampai menimbulkan efek negatif.

Simaklah pesan Rasulullah saw berikut ini.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْصِنِي، قَالَ : لاَ تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَاراً، قَالَ: لاَ تَغْضَبْ [رواه البخاري]

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu sesungguhnya seseorang bertanya kepada Rasulullah sholallohu ‘alaihi wa sallam : (Ya Rasulullah) nasihatilah saya. Beliau bersabda : Jangan kamu marah. Beliau menanyakan hal itu berkali-kali. Maka beliau bersabda : Jangan engkau marah. (HR. Bukhori) [Hadits ke-16 dalam Hadits ‘Arba’in]

Dalam riwayat lain, disebutkan hadits dari Ibnu Mas’ud Radliyallahu ‘anhu Rasulullah bersabda : “Siapa yang dikatakan paling kuat diantara kalian ? Shahabat menjawab : yaitu diantara kami yang paling kuat gulatnya. Beliau bersabda : Bukan begitu, tetapi dia adalah yang paling kuat mengendalikan nafsunya ketika marah.” (HR. Muslim)

Al Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari Anas Al Juba’i , bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda : “Barangsiapa yang mampu menahan marahnya padahal dia mampu menyalurkannya, maka Allah menyeru pada hari kiamat dari atas khalayak makhluk sampai disuruh memilih bidadari mana yang mereka mau” (HR. Ahmad dengan sanad hasan) Subhanallah…

Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam mangajarkan cara-cara menghilangkan kemarahan diantaranya adalah:

1. Membaca ta’awudz ketika marah.

Al Imam Al Bukhari dan Al Imam Muslim rahimakumullah meriwayatkan hadits dari Sulaiman bin Surod Radliyallahu ‘anhu : “Ada dua orang saling mencela di sisi Nabi Shalallahu alaihi wasallam dan kami sedang duduk di samping Nabi Shalallahu alaihi wasallam . Salah satu dari keduanya mencela lawannya dengan penuh kemarahan sampai memerah wajahnya. Maka Nabi Shalallahu alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya aku akan ajarkan suatu kalimat yang kalau diucapkan akan hilang apa yang ada padanya. Yaitu sekiranya dia mengucapkan : “Audzubillahi minasy Syaithani rrajiim. Maka mereka berkata kepada yang marah tadi : Tidakkah kalian dengar apa yang disabdakan nabi? Dia menjawab : Aku ini bukan orang gila.”

2.Dengan duduk

Apabila dengan ta’awudz kemarahan belum hilang maka disyariatkan dengan duduk, tidak boleh berdiri.

Al Imam Ahmad dan Abu Dawud rahimahullah meriwayatkan hadits dari Abu Dzar Radliyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shalallahu alaihi wasallam bersabda : ”Apabila salah seorang diantara kalian marah dalam keadaan berdiri duduklah, jika belum hilang maka berbaringlah”

Hal ini karena marah dalam berdiri lebih besar kemungkinannya melakukan kejelekan dan kerusakan daripada dalam keadaan duduk. Sedangkan berbaring lebih jauh lagi dari duduk dan berdiri.

3. Tidak bicara

Diam tidak berbicara ketika marah merupakan obat yang mujarab untuk menghilangkan kemarahan, karena banyak berbicara dalam keadaan marah tidak bisa terkontrol sehingga terjatuh pada pembicaraan yang tercela dan membahayakan dirinya dan orang lain.

Dalam hadits disebutkan :�Apabila diantara kalian marah maka diamlah.� Beliau ucapkan tiga kali. (HR. Ahmad)

4. Berwudlu

Sesungguhnya marah itu dari setan. Dan setan itu diciptakan dari api maka api itu bisa diredam dengan air, demikian juga sifat marah bias diredam dengan berwudlu.

Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya marah itu dari syaithan dan syaithan itu dicipta dari api, dan api itu diredam dengan air maka apabila diantara kalian marah berwudlulah.� (HR. Ahmad dan yang lainnya dengan sanad hasan)

Al Imam Al Hasan Al Bashri rahimahullah berkata : “Empat hal, barangsiapa yang mampu mengedalikannya maka Allah akan menjaga dari syetan dan diharomkan dari neraka : yaitu seseorang mampu menguasai nafsunya ketika berkeinginan, cemas, syahwat dan marah”

Empat hal ini yaitu keinginan, cemas, syahwat dan marah merupakan pemicu seluruh kejelekan dan kejahatan bagi orang yang tidak mampu mengendalikan nafsunya.

  1. Keinginan, adalah kecondongan nafsu pada sesuatu yang diyakini mendatangkan manfaat pada dirinya, seringnya orang yang tidak mampu menguasai nafsu akan berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan keinginannya itu dengan segala cara walaupun harus dengan cara harom, dan terkadang yang diinginkan juga berupa sesuatu yang haram.
  2. Cemas, adalah rasa takut dari sesuatu. Orang yang cemas akan berupaya untuk menolaknya dengan segala cara walaupun harus dengan cara harom seperti meminta perlindungan kepada selain Allah.
  3. Syahwat, adalah kecondongan nafsu pada sesuatu yang diyakini dapat memuaskan nafsunya. Seringnya orang yang kalah dengan nafsunya memuaskan nafsu syahwatnya itu pada sesuatu yang haram seperti zina, mencuri, minum khamer bahkan pada sesuatu yang menyebabkan kekufuran, kebid�ahan dan kemunafikan.

4.      Marah, adalah gelagaknya darah hati untuk menolak gangguan sebelum terjadi atau untuk membalas gangguan yang sudah terjadi. Kemarahan seringnya dilakukan dalam bentuk perbuatan yang diharamkan seperti pembunuhan, pemukulan dan berbagai kejahatan yang melampaui batas. Terkadang dalam bentuk perkataan yang diharamkan seperti tuduhan palsu, mencela dan perkataan keji lainnya dan terkadang meningkat sampai pada perkataan kufur.

Tetapi tidak semua kemarahan itu tercela, ada yang terpuji , bahkan sampai pada tingkatan harus marah yaitu ketika kita melihat agama Allah direndahkan dan dihinakan, maka kita harus marah karena Allah terhadap pelakunya. Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam tidak pernah marah jika celaan hanya tertuju pada pribadinya dan beliau sangat marah ketika melihat atau mendengar sesuatu yang dibenci Allah maka Beliau tidak diam, beliau marah dan berbicara.

Ketika Nabi Shalallahu alaihi wasallam melihat kelambu rumah Aisyah ada gambar makhluk hidupnya (yaitu gambar kuda bersayap) maka merah wajah Beliau dan bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling keras siksaannya pada hari kiamat adalah orang membuat gambar seperti gambar ini.” (HR. Bukhari Muslim)

Nabi Shalallahu alaihi wasallam juga marah terhadap seorang sahabat yang menjadi imam shalat dan terlalu panjang bacaannya dan beliau memerintahkan untuk meringankannya. Tetapi Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam tidak pernah marah karena pribadinya.

Al Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits Anas radhiyallahu anhu: “Anas membantu rumah tangga Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam selama 10 tahun, maka tidak pernah beliau berkata kepada Anas : “ah”, sama sekali. Beliau tidak berkata terhadap apa yang dikerjakan Anas : “mengapa kamu berbuat ini.” Dan terhadap apa yang tidak dikerjakan Anas,”Tidakkah kamu berbuat begini.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Begitulah keadaan beliau senantiasa berada diatas kebenaran baik ketika marah maupun ketika dalam keadaan ridha/tidak marah. Dan demikianlah semestinya setiap kita selalu diatas kebenaran ketika ridha dan ketika marah.

Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda : “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu berbicara yang benar ketika marah dan ridha.” (Hadits shahih riwayat Nasa’i)

Astaghfirullah al ‘adzim……………

Sungguh lancang diri ini melakukan sesuatu yang tak pernah Rasulullah saw lakukan (marah). Bahkan Rasulullah saw menasehati kita agar senantiasa menahan amarahnya,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْصِنِي، قَالَ : لاَ تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَاراً، قَالَ: لاَ تَغْضَبْ [رواه البخاري]

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu sesungguhnya seseorang bertanya kepada Rasulullah sholallohu ‘alaihi wa sallam : (Ya Rasulullah) nasihatilah saya. Beliau bersabda : Jangan kamu marah. Beliau menanyakan hal itu berkali-kali. Maka beliau bersabda : Jangan engkau marah. (HR. Bukhori) [Hadits ke-16 dalam Hadits ‘Arba’in]

Ya Rabb, Ampuni diri ini yang lancang, tak dapat menahan amarah, meski walau hanya sesaat, Astaghfirullahal ‘adzim…. (Diolah dari berbagai sumber) Wallahu a’lam.

Buat yang di tag, berarti ane pernah marah ma ente2 pade, maafin ane yah… Mungkin ane lagi khilaf, he..he.. (Khilaf koq sering). Buat yang ga di tag, sorry om, ane lupa pernah marah ma ente. Maafin aje yah…

 

Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.